Yanti Mualim
Oktober 2024
Sudah beberapa kali aku berdiri di muka rak di toko langgananku, ada sederetan kantongan karton berisi umbi-umbi bunga. Tulip, narcis, lauwe druif (anggur biru/ Muscari botryoides) tanaman yang tidak lebih dari 10 cm dan berbunga bulir-bulir. Aku ragu-ragu, beli atau tidak yah.

Oktober adalah waktu yang cocok untuk menanam umbi-umbi bunga. Jadi ingat seorang ibu, peneliti di Tropen Instituut di Amsterdam, yang memberiku beberapa puluh tahun lalu banyak informasi berharga. Aku ingin janji bertemu lagi denganya, kami cari waktu. ‘Apakah ibu bisa akhir September?’, tanyaku. ‘Och, tiap tahun akhir September sampai minggu kedua Oktober saya cuti. Cuti untuk membereskan kebun saya dan menanam umbi-umbi bunga’, begitu jawabnya. Aku jadi paham ibu ini punya semacam tradisi bercocok tanam.
Sebagai penggemar taman aku jadi ingin tahu lebih banyak. Rumusan tanam-menanam di negara bermusim empat ini sederhana sekali. Umbi-umbian yang berbunga di musim semi, masuk tanah di musim gugur; dan sebaliknya tanaman yang berbunga di musim gugur masuk tanah di musim semi. Nah sekarang adalah musim gugur. Apa yang menyebabkan aku ragu membeli umbi-umbi bunga, padahal aku suka juga dengan bunga-bunga itu. Aku meragukan manfaat bunga-bunga umbi untuk biodiversitas.

Tahun-tahun belakangan para ilmuwan memberitakan biodiversitas [keanekaragaman hayati] sangat terancam. Jika dikatakan hariamu terancam punah, orang mudah mengerti. Oleh karena itu ada daftar satwa yang dilindungi. Tidak boleh diburu, tidak boleh diperdagangkan. Jauh berbeda dengan pemahaman orang tentang ancaman terhadap serangga. Mengapa kita harus melestarikan serangga? Mungkin kita kurang menyadari besarnya peran serangga untuk keseimbangan alam dan peran serangga dalam penyerbukan, jadi secara langsung mempengaruhi produski pangan.
Kumbang, lebah dan seranga polinator lain (serangga penyerbuk) sangat tergantung dari tumbuh-tumbuhan. Berarti makin banyak jenis tanaman dan bunga yang kita tanam, kian baik kondisi yang kita ciptakan untuk serangga. Logikanya memang begitu. Yang kukhawatirkan adalah banyak jenis tanaman dan umbi-umbi yang dijual di Belanda mengandung pestisida. Bunga yang dihasilkan tanaman itu juga mengandung pestisida. Berarti kita memberi racun pada serangga.
Mengapa pengembang biak tanaman hias menggunakan pupuk buatan dan pestisida. Tidak lain untuk menciptakan tanaman yang sempurna. Sempurna menurut pandangan kita, manusia. Tidak berlebihan jika kukatakan Belanda punya keunggulan membudidayakan tanaman. Keakhlian ini menghasilkan sangat banyak jenis tulip, baik warna, bentuk maupun besarnya. Bentuk dan warna tulip yang menurutku terlalu sempurna inilah yang membuatku ragu akan manfaat bunga-bunga itu untuk biodiversitas (keaneka ragaman hayati).
Akhir pekan baru lalu kutanam umbi-umbi bunga yang kubeli di toko langgananku. Apa gerangan yang menghapus keraguanku? Begini: kudengar di radio seorang ahli unggas (ornitholog) menjelaskan tentang burung-burung yang sedang bermigrasi ke Afrika. Menjelang musim dingin, saat suhu di belahan bumi ini menurun, burung-burung bermigrasi ke tempat yang lebih panas a.l. ke Afrika dan Asia. Di sana mereka berdiam selama di Eropa dingin. Bila suhu di Eropa mulai meningkat, burung-burung itu kembali lagi ke Eropa. Untuk bisa melakukan perjalanan jauh itu burung-burung butuh energi, dan energi didapat dari makanan, begitu pula bila mereka mengadakan perjalanan kembali. Makanan burung bisa berupa biji-bijian, buah-buahan dan ada pula burung pemakan serangga. Ada juga yang memakan kombinasi dari biji-bijian hingga serangga.
Narcis, tulip, blauwe druif dan masih banyak lagi adalah pertama yang merekah di awal musim semi, bulan Maret. Saat suhu udara pada awal musim semi masih rendah, kebanyakan tanaman masih gundul, belum banyak bunga, saat itulah tulip dan narcis sangat berguna untuk serangga yang sudah aktif di awal musim semi. Umbi-umbi yang saya beli adalah dari pertanian biologis, tidak menggunakan pupuk buatan, tidak menggunakan pestisida. Umbi-umbi sudah kupendam di tanah, semoga banyak serangga menemukan meja makan mereka di halamanku pada musim semi tahun 2025.

























